Calon tunggal Pemilu di Kabupaten Kediri dipantau lima lembaga

Pilkada calon tunggal di Kabupaten Kediri dipantau lima lembaga

Kediri (ANTARA) – Sebanyak lima lembaga pemantau akan memantau pelaksanaan hak pilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dengan satu calon akan digelar serentak, 9 Desember 2020.

“Mereka akan memantau penyelenggaraan pemilu untuk melihat apakah berjalan dengan baik. Kalau ada dakwaan lapor ke Bawaslu,” kata Komisioner Bidang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih (Sosdiklih), Sumber Daya Manusia (SDM) dan Partisipasi Masyarakat (Parmas) KPU Kabupaten Kediri Kabupaten Nanang Qosim dalam sambutannya. Kediri, Selasa malam.

Lima lembaga pemantau itu, kata dia, antara lain Forsis, Jaringan Pendidikan Pemilih Rakyat (JPPR), Kehakiman, Pengawas Pemilu, dan Jaringan Demokrasi Indonesia (JADI). Mereka juga sudah melapor ke KPU Kabupaten Kediri untuk memantau pemilu.

Baca juga: Kemendagri Pantau Pelaksanaan Pilkada di Medan

Soal logistik sehari sebelum hak pilih, Rabu (9/12), Nanang mengatakan, persiapan juga sudah dilakukan secara maksimal. Semua logistik pemilu juga tersedia di PPS. Nanti, KPPS akan mengambilnya pada Rabu pagi.

Pihaknya juga terus memantau persiapan di TPS, termasuk yang akan dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Menurut informasi, Wakil Gubernur akan mengunjungi TPS 1 di Desa Ngebrak dan TPS 4 di Desa Putih, Kabupaten Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

"Besok Wakil Gubernur berencana mengunjungi TPS. Kami akan pantau persiapannya," kata Nanang.

Ia juga meminta KPPS mencari tempat aman untuk mendirikan lokasi TPS. Apalagi ini musim hujan, sehingga TPS juga harus aman dari berbagai ancaman bencana.

Selain itu, pendirian lokasi TPS juga harus sesuai dengan protokol kesehatan yang ada dengan menyediakan tempat cuci tangan, menyediakan kursi luar ruangan agar tidak ramai. Saat ini masih menjadi pandemi COVID-19, sehingga protokol kesehatan harus diterapkan secara ketat.

“Sejak awal kami mendesak kami untuk mencari lokasi yang terlindung dari ancaman bencana. Kami sudah melakukannya. Bahkan lebih baik ancaman bencana di luar (area terbuka) juga harus dipertimbangkan,” kata Nanang.

Baca:  Hamdan: Bawaslu berhak diskualifikasi paslon lakukan pelanggaran TSM

Ia juga menegaskan, warga sudah diberikan surat undangan untuk memilih dalam Pilkada Kabupaten Kediri, termasuk diberikan waktu kedatangan. Namun, saat warga datang di luar waktu yang telah ditentukan, mereka tetap dilayani.

Baca juga: KPU Makassar menghancurkan 9.651 surat suara rusak

"Tidak apa-apa, ini hanya untuk menghindari keramaian. Kita sudah mengharapkan dengan membagi jam," ujarnya.

Pilkada Kabupaten Kediri hanya diikuti oleh satu calon saja, yakni calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersama pasangan calon Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa.

Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengaku tidak khawatir dengan pencanangan atap kosong yang dilakukan sekelompok orang menjelang pemilihan serentak, 9 Desember 2020.

Pihaknya mengklaim tingkat kenalannya dengan pasangannya di pemilu sudah mencapai 94 persen. Jumlah tersebut berasal dari hasil survei internal dan telah rata tidak bisa menambahkan lebih banyak. Sedangkan dari hasil survei, jumlahnya 81 persen dan sisanya tidak menjawab.

Dalam masa tenang, Dhito yang juga putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung ini mengatakan akan lebih banyak berdoa dan mengharapkan yang terbaik.

“Kalau ditakdirkan begitu, 9 Desember saya akan memimpin Kabupaten Kediri. Semua saya kembalikan kepada Allah SWT bagaimana keputusannya,” kata Dhito.

Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Kediri akan diikuti 1.231.512 orang yang terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Niatnya akan disalurkan ke 3.311 TPS yang tersebar di 26 kecamatan. (*)

Baca juga: Kodam I / BB Siap Dukung Operasi Pengamanan Pilkada di Sumut

Reporter: Asmaul Chusna
Editor: Triono Subagyo
HAK CIPTA © ANTARA 2020