IDI: Kluster demo akan memicu lonjakan COVID-19

IDI: Klaster demo akan picu lonjakan COVID-19

Jakarta (ANTARA) –

Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meyakini, demonstrasi Omnibus Law UU Cipta Kerja baru-baru ini berpotensi melahirkan kelompok baru, sehingga memicu lonjakan COVID-19 di tanah air.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Dr. M Adib Khumaidi, SpOT dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jum'at mengatakan, aksi unjuk rasa menghimpun ribuan bahkan puluhan ribu orang yang sebagian besar tidak hanya mengabaikan jarak fisik tetapi juga tidak memakai masker.

“Berbagai nyanyian dan teriakan peserta demonstrasi tentunya menghasilkan tetesan air dan aerosol yang berpotensi menularkan virus, khususnya COVID-19,” kata Adib.

Selain itu, banyaknya kemungkinan demonstran datang dari berbagai kota atau daerah.

“Jika terinfeksi, mereka dapat menyebarkan virus ketika kembali ke komunitasnya,” katanya.

Menurutnya, bukan tugasnya sebagai petugas kesehatan untuk menilai mengapa orang-orang ini terlibat dalam demonstrasi.

“Berkaitan dengan hal tersebut, kami menjelaskan kekhawatiran kami dari segi medis dan berdasarkan ilmu pengetahuan, apa yang membuat peristiwa khususnya demonstrasi berisiko lebih tinggi daripada kegiatan lainnya. Bahkan diperkirakan akan terjadi lonjakan besar dalam 1-2 minggu ke depan,” kata Adib.

Dalam situasi saat ini, petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tidak mampu menangani jumlah pasien Covid yang terus meningkat.

“Jumlah dokter meninggal akibat Covid sebanyak 132 orang. Dokter yang meninggal itu terdiri dari 68 dokter umum (4 guru besar), 62 dokter spesialis (5 guru besar), dan 2 residen,” ujarnya.

Semua dokter tersebut berasal dari 18 IDI Regional (wilayah) dan 61 IDI Cabang (Kota / Kabupaten).

Berdasarkan data provinsi, Jawa Timur 31 dokter, Sumatera Utara 22 dokter, dokter DKI Jakarta 19, dokter Jawa Barat 11, dokter Jawa Tengah 9, dokter Sulawesi Selatan 6, dokter Bali 5, dokter Sumatera Selatan 4, dokter 4 di Kalimantan Selatan, 4 dokter di Aceh, 3 dokter Timur, 4 dokter Riau, Kepulauan Riau 2 dokter, Yogyakarta 2 2 dokter Nusa Tenggara, Sulawesi Utara 2 dokter, Banten 1 dokter, dan Papua Barat 1 dokter.

Baca:  KPU mengingatkan agar calon pasangan tidak memasang APK sembarangan

Pasalnya, lonjakan pasien COVID-19, terutama orang tanpa gejala (OTG) yang mengabaikan perilaku protokol kesehatan di berbagai wilayah juga meningkat.

Faktanya, kelompok baru penularan COVID-19 terus bermunculan dalam beberapa pekan terakhir karena sejumlah daerah di Indonesia sudah mulai melepaskan PSBB dan membuka kembali wilayahnya untuk pendatang yang berarti semakin banyak orang yang melakukan aktivitas di luar ruangan.

Reporter: Syaiful Hakim
Editor: Ruslan Burhani
HAK CIPTA © ANTARA 2020