IKASBA Kalimantan Selatan meminta masyarakat tidak terpancing informasi negatif

IKASBA Kalsel minta masyarakat jangan terprovokasi informasi negatif

Jakarta (ANTARA) – Ketua Ikatan Suku Etnis Kalimantan Selatan (IKASBA), Aliansyah Mahadi mengatakan, seharusnya masyarakat tidak digerakkan oleh informasi negatif, terutama di dunia maya dan media sosial yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan.

“Karena media sosial dan dunia maya, kalau saya lihat, nampaknya sangat mudah digunakan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab ini untuk memprovokasi. Apalagi jika ada orang yang tidak memahami situasi dan permasalahan yang sebenarnya, sudah pasti sangat berbahaya,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Kamis.

Untuk itu, pria yang juga Ketua Forum Koordinasi Anti Terorisme Provinsi Kalimantan Selatan ini mengatakan, perlu ada imbauan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bekerja sama menjaga persatuan dan tidak terprovokasi. Pemerintah juga harus selalu meminta warganya untuk bersama-sama melindungi negara ini.

Baca juga: Polsek Singkawang Periksa Lima Saksi Terkait Informasi Palsu Terkait Virus Corona

Selain itu, untuk menyikapi hal tersebut, kaum muda atau milenial juga harus dilibatkan. Menurutnya, generasi muda sangat energik, memiliki pemikiran atau gagasan yang kabur, meski ada sedikit yang tidak peduli dengan keadaan bangsa saat ini.

Ia mengatakan saat ini sangat penting mengingat level Pemilu 2020 juga terus berlanjut. Suhu politik di daerah semakin memanas. Untuk itu, ia juga mengingatkan para pimpinan di Kalsel untuk terus bersinergi menjaga persatuan.

“Nah, tentu ini bisa menjadi potensi perpecahan jika tidak menjadi perhatian. Tentunya kita selalu mengingatkan para tokoh adat, tokoh masyarakat atau tokoh agama di Kalsel untuk bersinergi, bersatu, saling mengingatkan agar tidak terprovokasi oleh hal-hal yang itu. bisa menghancurkan, "katanya.

Baca juga: Bawaslu Sulawesi Selatan Minta Penipuan Berbunyi

Karena menurut alumni Universita Lambung Mangkurat ini, provokasi ini jika dibiarkan pasti akan merusak kedamaian dan ketentraman seperti yang terjadi, yang merupakan amukan massa di Kalimantan Selatan pada tahun 1997. Itu salah satu hal yang tentunya tidak diinginkan.

Baca:  Dewan Perwakilan Rakyat Sri Meliyana mendorong perempuan menjadi kekuatan pembangunan

“Oleh karena itu, melalui jumlah yang ada, kita beri pengertian dan kita ajak bersilaturahmi. Karena masyarakat di Banua Kalimantan Selatan sudah menyerah pada hal-hal yang provokatif. Masyarakat sudah merasakan akibat dari amukan masif pada tahun 1997, "katanya.

Ia mengatakan hal ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang di negeri ini, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Serta peran tokoh agama, ulama yang selalu memberikan kesejukan, yang menjadi contoh bagi masyarakat.

Ia mengapresiasi apa yang dilakukan National Counterterrorism Agency dengan membentuk Virtual World Ambassador. “Ini sungguh luar biasa digunakan dalam membantu aksi penyelamatan rakyat negeri ini untuk diberi pencerahan agar masyarakat ini terhindar dari provokasi dan perpecahan,” ujarnya.

Baca juga: Jokowi meminta publik tidak mudah terpecah belah dengan informasi palsu

Reporter: M Arief Iskandar
Editor: Ade P Marboen
HAK CIPTA © ANTARA 2020