Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini menilai banyak partai politik yang terjebak dalam politik dinasti

Mantan Ketua MK menilai banyak parpol terjebak politik dinasti

Bukan menjadi pemberi dan penyumbang kemajuan peradaban bangsa

Jakarta (ANTARA) – Banyak parpol yang muncul saat reformasi akhirnya terjebak dalam oligarki dan politik dinasti, kata Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie.

“Ada masalah internal partai, partai yang lahir di era reformasi,” kata Jimly, saat diskusi online “Seri-1 Negara (Refleksi dan Proyeksi 75 Tahun INDONESIA: Politik, Bangsa, Konstitusi)”, Minggu (23/8) malam. .

Padahal, Jimly menjelaskan, reformasi adalah upaya untuk membalikkan keadaan yang cenderung negatif agar kembali ke kondisi yang baik, seperti Orde Lama diperbaiki oleh Orde Baru, kemudian Orde Baru diperbaiki oleh Reformasi setelah itu dilaksanakan.

Memasuki masa reformasi, kata dia, muncul partai-partai yang menjunjung tinggi “demokrasi hukum”, namun dalam praktiknya berbeda.

Menurutnya, sebagian besar partai yang masih dipimpin tokoh-tokoh lama sudah mengalami gerontokrasi.

Ada kekhawatiran, kata Jimly, ada kecenderungan pergantian kepemimpinan di partai politik berlangsung lebih lama.

Baca juga: Anggota DPR Soroti Alasan Munculnya Dinasti Politik di Pemilu

Meski banyak tokoh muda yang saat ini diangkat menjadi menteri, kata dia, pada dasarnya parpol yang dipimpin oleh sesepuh menentukan karena mereka adalah pengurus partai.

Sementara partai mengalami gerontokrasi dan menjelma menjadi dinasti politik. Keluarga-keluarga tertentu muncul sebagai kolaborasi oligarki politik karena demokrasi semakin mahal, jelasnya.

Oleh karena itu, Jimly menghimbau agar setiap orang tidak berpikir pragmatis, tetapi berperan dalam membangun negara dengan berbagi ide dan impian untuk Indonesia yang lebih baik.

“Kalau kita biarkan dengan sikap pragmatis, kita biarkan sekarang. Semua orang ingin mengambil alih, memperjuangkan posisi mana yang bisa diambil, menjadi biasa-biasa saja, ambil generasi, mohon generasi, generasi penerimanya. Jangan memberi dan berkontribusi untuk kemajuan peradaban. bangsa, "katanya.

Baca:  Semua calon Pilkada Gunung Kidul telah melengkapi kelengkapan dokumen

Baca juga: Hasto mengatakan tuduhan politik dinasti terhadap Gibran tidak berdasar
Baca juga: Pengamat menyebut politik dinasti sebagai penghambat demokrasi
Baca juga: Presiden Jokowi menyangkal dinasti politik yang sedang berlangsung

Reporter: Zuhdiar Laeis
Editor: M. Atmoko Day
HAK CIPTA © ANTARA 2020