MPR mendukung peningkatan kerja sama di bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Turki

MPR dukung peningkatan kerja sama industri pertahanan Indonesia-Turki

Fokusnya adalah untuk memenuhi kebutuhan alutsista dalam negeri dan kemandirian industri pertahanan nasional di Indonesia sejalan dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Jakarta (ANTARA) – Ketua MPR Bambang Soesatyo mendorong peningkatan kerja sama di bidang industri pertahanan dan perkembangan teknologi antara Indonesia dan Turki yang sudah berlangsung sejak 2010.

Menurutnya, penguatan kerja sama ini tercermin dari intensitas kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto ke Turki empat kali berturut-turut pada pertengahan 2019-2020.

“Dari rangkaian kunjungan Menteri Pertahanan RI, komitmen kedua belah pihak telah menghasilkan penguatan dan pengembangan kerjasama di bidang industri pertahanan. Mulai dari penelitian dan pengembangan, produksi dan pemasaran bersama, pembelian, pemeliharaan dan membangun kapasitas, Kata Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Industri Strategis Sistem Pertahanan FNSS, di Ankara, Turki, Selasa (3/11).

Baca juga: MPR menegaskan dukungannya atas sikap Presiden Jokowi-Erdogan terhadap Macron

Baca juga: Demi Pemulihan Ekonomi, Ketua MPR RI Minta Dukungan Parlemen Turki

Bamsoet menjelaskan, salah satu alasan Turki dipilih bekerja sama di industri pertahanan adalah latar belakang hubungan baik yang sudah terjalin lama antara kedua negara.

Menurutnya, Indonesia juga melihat potensi sumber daya Turki, salah satunya melalui FNSS, serta peluang kerjasama dengan prinsip saling menghargai dan skema kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Fokusnya pada pemenuhan kebutuhan alutsista dalam negeri dan kemandirian industri pertahanan nasional di Indonesia sejalan dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan,” ujarnya.

Bamsoet menjelaskan, kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Turki memiliki dasar legalitas yang lebih kuat melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2014 tentang Pengesahan Perjanjian Kerja Sama Industri Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki.

Baca:  Kilus NusAntara Malam

Ia mengatakan, salah satu bentuk kerja sama yang disepakati Turki dan Indonesia adalah pengembangan medium tank atau dikenal dengan Tiger Tank yang memiliki spesifikasi sesuai dengan kondisi lapangan di Indonesia, seperti bisa di rawa dan laut dengan berat sekitar 20-40 ton. dan dilengkapi dengan kanon Kaliber 90-105 mm.

“MPR RI berharap penguatan kerjasama di bidang industri pertahanan antara FNSS dan PT Pindad dapat dipertahankan dan diperluas menjadi pendorong untuk meningkatkan kerjasama lainnya, baik di bidang industri pertahanan lainnya,” ucapnya.

Ia mengatakan, dengan kemajuan teknologi maka industri pertahanan juga akan terus berkembang sehingga percepatan penguasaan teknologi pertahanan menjadi suatu kebutuhan.

Menurutnya, hal ini termasuk mencari peluang untuk menggunakan teknologi dengung atau drone tidak hanya untuk industri pertahanan nasional, tetapi juga untuk memperkuat kegiatan ekonomi lainnya, seperti penunjang pertanian makanan, pembangunan pedesaan, pengawasan sektor perikanan dan kelautan dan lain-lain.

Baca juga: Ketua MPR: Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Turki perlu ditingkatkan

Reporter: Imam Budilaksono
Editor: Chandra Hamdani Noor
HAK CIPTA © ANTARA 2020