Prabowo Subianto memanggil Jenderal TNI (Purn.) Wismoyo Arismunandar

Prabowo Subianto kenang Jenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar

Disiplin adalah nafasku, kesetiaan adalah jiwaku, kehormatan adalah segalanya.

Jakarta (ANTARA) – Jenderal TNI (Purn.) Wismoyo Arismunandar meninggal dunia secara permanen di Jakarta, Kamis pagi di RS Pondok Indah, dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memberikan penghormatan kepada seniornya yang merupakan Panglima Tertinggi. dari Staf Darat Angkatan Darat.

“Saya bertemu Pak Wismoyo Arismunandar saat masuk Kopassandha. Dia menjabat Wakil Asisten Petugas Keamanan Danjen Kopassandha dengan pangkat letnan kolonel, sedangkan saya letnan dua,” kata Prabowo dalam keterangan yang disampaikan juru bicara Kementerian Pertahanan Dahniel Simanjuntak di Jakarta, Kamis.

Kedua tokoh AD TN ini sama-sama berasal dari korps infanteri, baik dari Lembah Tidar, dan sama-sama memiliki karir yang baik di Kodam Sandhi Yudha yang kemudian berganti nama menjadi Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat.

Bedanya, Prabowo lulus Akademi Militer pada 1974 dan Wismoyo lulusan Akademi Militer Nasional pada 1963.

Kampus pendidikan TNI AD, tempat para taruna (yang kemudian disebut taruna) dilatih, dibentuk, dan dididik memang sempat menuai banyak nama hingga akhirnya menjadi Akademi Militer sejak 1984.

Prabowo mengatakan, “Dia salah satu guru saya di TNI. Dia banyak mengajari saya nilai-nilai penting selama di TNI, beberapa filosofi yang selalu dia sampaikan kepada saya dan sampai sekarang saya gunakan adalah: "Disiplin adalah nafasku, kesetiaan adalah jiwaku, kehormatan adalah segalanya."

Baca juga: Marciano Norman: Wismoyo meninggalkan warisan olahraga yang hebat

Selain itu, kata dia, dia juga selalu mengingatkan kita pada wacana Jawa, jangan menyakiti orang, yang artinya jangan membicarakan keburukan orang lain.

“Ajaran filosofis Pak Wismoyo sangat mempengaruhi saya hingga saat ini, selain itu beliau selalu menjadi contoh dalam memimpin,” ujarnya.

Prabowo mengenang, “Suatu ketika kami bersama timnya ingin melakukan senam payung di Lampung. Ia tetap ingin ikut, meski saat itu lututnya cedera. Akhirnya tertipu hingga disuruh melompat dan mendarat. di danau, bagi kami itu lebih baik. Dia basah kuyup di danau daripada berlutut lebih parah. Dia selalu memberi contoh. "

Ada lagi kejadian yang menghebohkan Prabowo dengan Wismoyo, yakni saat berangkat untuk operasi pertamanya sebagai komandan kompi pada akhir Oktober 1978. Pukul 20.00 WIB lepas landas 04.00 Wib dari Bandara Halim Perdana Kusuma Wismoyo telpon Prabowo.

Baca:  Akademik: Risma tinggal fokus menjadi Mensos saja

“Dia menanyakan tentang kesiapan saya di operasi. Saya jelaskan semua peralatan sudah siap, mulai dari senjata, amunisi, kompas hingga obat-obatan,” ujarnya.

Baca juga: Mantan Jenderal Kasad Wismoyo meninggal dunia

"Tapi," lanjut Prabowo, "dia masih bertanya. Apa lagi yang harus disiapkan? Dia bertanya lagi beberapa kali saat saya menjawab."

Prabowo melanjutkan, "Itu baru setelah saya menjawab berkali-kali dan dia bertanya lagi. Dia menjelaskan maksud pertanyaannya. Dia menjelaskan bahwa saya masih muda, bertanggung jawab atas 100 nyawa tim, dan akan menghadapi bahaya yang mematikan. Jadi dia mengingatkan saya untuk mendekat. . dengan Tuhan, Allah SWT., maka saya mengerti pertanyaannya. "

Dia melanjutkan, “Kemudian dia masuk ke kamar dan ketika dia keluar dia membawa paket dan memberikannya kepada saya. Dan, isi paket itu adalah sajadah. Dia meminta saya untuk meletakkan sajadah di ransel saya saat bertugas . "

Wismoyo Arismunandar lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 10 Februari 1940, dan meninggal di Jakarta pada 28 Januari 2021.

Ia pernah menjadi Panglima TNI tahun 1993-1995 dan beberapa tahun sebelumnya pernah menjadi Panglima Pasukan Sandhi Yudha menggantikan Brigjen TNI (Purn.) Yogie S. Memet dan diganti oleh Brigjen TNI (Purn.) Sintong Pandjaitan.

Baca juga: Wismoyo Arismunandar Ajak Purnawirawan TNI Pertahankan Karakter Sapta Marga

Pada upacara pemakaman di rumah pribadinya, Kecamatan Bambu Apus, Jakarta Timur, Pandjaitan turut hadir dan berdiri di jajaran prajurit senior TNI yang sedang berduka, termasuk Jenderal TNI (Hor) Purn. Agum Gumelar, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Tarub, dan Jenderal TNI (Hor) Purn. SAYA. Hendropriyono.

Sedangkan Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menjadi penguji upacara pada upacara penghormatan ketika pasukannya berangkat untuk peristirahatan abadi.

Reporter: Ade P. Marboen
Editor: D.Dj. Kliwantoro
HAK CIPTA © BETWEEN 2021